Panduan lengkap membuat password kuat agar akun aman dari hacker namun tetap mudah Anda ingat sendiri.
Di era digital yang semakin canggih ini, data pribadi bukan lagi sekadar informasi, melainkan aset paling berharga yang kita miliki. Namun, ironisnya, banyak dari kita yang masih memperlakukan "kunci" aset tersebut dengan sangat sembrono. Menggunakan tanggal lahir, nama peliharaan, atau urutan angka standar seperti "123456" sebagai kata sandi sama saja dengan meninggalkan kunci rumah di bawah keset kaki—semua orang tahu di mana harus mencarinya.
Memasuki tahun 2026, tantangan keamanan siber semakin kompleks. Serangan bukan lagi sekadar tebak-tebakan manual, melainkan sudah melibatkan kecerdasan buatan (AI) yang mampu memproses jutaan kombinasi karakter dalam hitungan detik. Sebagai jurnalis teknologi, saya melihat adanya kesenjangan besar antara kecanggihan teknologi peretasan dengan kesadaran pengguna dalam mengamankan diri.
Lalu, bagaimana cara kita menciptakan benteng pertahanan yang kokoh tanpa harus merasa terbebani untuk menghafal rangkaian karakter yang membingungkan? Mari kita bedah rahasianya bersama-sama.
Mengapa Password Rumit Menyelamatkan Kita?
Selama bertahun-tahun, kita diajarkan untuk membuat kata sandi yang rumit, seperti P@$$w0rd!. Namun, tahukah Anda bahwa pola penggantian karakter standar (seperti mengganti 'a' dengan '@' atau 's' dengan '$') sudah sangat mudah diprediksi oleh algoritma peretas?
Masalah utamanya bukan hanya pada kerumitan karakter, melainkan pada prediktabilitas. Manusia cenderung mengikuti pola. Ketika kita dipaksa mengganti password secara berkala, kita seringkali hanya mengubah satu angka di bagian akhir, misalnya dari Rahasia1 menjadi Rahasia2. Pola inilah yang diincar oleh para pelaku kejahatan siber melalui metode credential stuffing.
Analisis saat ini menunjukkan bahwa panjang sebuah kata sandi jauh lebih penting daripada kerumitannya. Sebuah kata sandi pendek yang sangat rumit bisa dibobol lebih cepat oleh komputer dibandingkan kalimat panjang yang terdiri dari kata-kata sederhana namun acak. Inilah poin krusial yang harus kita pahami jika ingin tetap aman di dunia maya.
Membuat Kalimat Rahasia
Salah satu cara terbaik untuk menciptakan kata sandi yang mustahil ditebak orang lain tetapi sangat melekat di ingatan kita adalah dengan metode Mnemonic. Caranya adalah dengan mengambil sebuah kalimat yang memiliki arti personal bagi Anda, lalu mengambil inisial atau bagian tertentu dari setiap katanya.
Misalkan, Anda memiliki kenangan indah: "Saya Pertama Kali Naik Gunung Rinjani Tahun 2015!"
Jika kita ambil huruf pertama dari setiap kata dan menyertakan tanda bacanya, kita mendapatkan: SPKNGRT2015!
Kombinasi ini sangat kuat karena:
- Memiliki panjang 11 karakter (melebihi standar minimal 8 karakter).
- Mencakup huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol.
- Tidak membentuk kata yang ada di dalam kamus mana pun di dunia.
- Sangat mudah diingat karena Anda hanya perlu mengingat momen mendaki gunung tersebut.
Beralih ke Passphrase
Jika metode pertama terasa terlalu teknis, Anda bisa mencoba tren terbaru yang juga sangat didukung oleh lembaga keamanan internasional seperti NIST: Passphrase.

Alih-alih satu kata yang dipaksakan rumit, gunakanlah empat atau lima kata acak yang tidak berhubungan satu sama lain. Contohnya: Kucing-Lari-Buku-Biru-99.
Secara visual, otak kita jauh lebih mudah merekam gambaran "Kucing lari membawa buku biru" daripada mengingat rangkaian simbol abstrak. Namun bagi komputer peretas, menebak kombinasi lima kata acak ini membutuhkan waktu ribuan tahun karena jumlah kombinasi kemungkinannya yang sangat masif. Kuncinya adalah jangan menggunakan peribahasa umum atau lirik lagu yang populer, karena peretas juga memiliki basis data berisi jutaan lirik lagu dan kutipan film.
Teknik "Jangkar" untuk Setiap Akun
Kesalahan fatal yang sering saya temukan dalam analisis kebocoran data adalah penggunaan satu password yang sama (reuse) untuk berbagai platform. Jika akun media sosial Anda bocor, maka akun perbankan Anda pun ikut terancam.
Untuk mengatasinya tanpa harus menghafal banyak password berbeda, gunakanlah teknik "Jangkar". Tentukan satu password dasar yang kuat (menggunakan salah satu metode di atas), lalu tambahkan kode unik di depan atau di belakangnya sesuai nama platform.
Misalnya, password dasar Anda adalah Bintang*Malam.
Untuk akun Instagram, menjadi: Insta-Bintang*Malam
Untuk akun Tokopedia, menjadi: Toped-Bintang*Malam
Untuk akun Email, menjadi: Mail-Bintang*Malam
Dengan cara ini, setiap akun Anda memiliki identitas unik. Jika satu layanan terkena retas, akun Anda yang lain tetap memiliki lapisan pelindung yang berbeda.
Analisis Masalah Keamanan Akun
Kita seringkali mengorbankan keamanan demi kenyamanan (convenience). Dalam banyak kasus kebocoran data belakangan ini, peretas tidak perlu bekerja keras membobol sistem enkripsi yang canggih. Mereka hanya perlu memanfaatkan kelengahan pengguna melalui beberapa celah berikut:
- Kepercayaan Berlebih pada Autofill Browser Menyimpan password di browser memang praktis. Namun, jika laptop atau ponsel Anda jatuh ke tangan yang salah, atau perangkat Anda terjangkit malware jenis stealer, semua password yang tersimpan itu bisa diekspor hanya dalam hitungan detik.
- Pengabaian Autentikasi Dua Faktor (2FA) Banyak orang merasa risih harus memasukkan kode dari ponsel setiap kali login. Padahal, 2FA adalah tembok terakhir. Meskipun peretas berhasil mencuri password Anda, mereka tetap tidak bisa masuk tanpa akses fisik ke perangkat autentikasi Anda. Di tahun 2026, menggunakan password tanpa 2FA ibarat mengunci pintu rumah tapi membiarkan jendelanya terbuka lebar.
- Serangan Psikologis (Phishing) Teknik ini tidak menyerang sistem, tapi menyerang mental manusia. Anda mungkin mendapatkan email yang sangat mirip dengan notifikasi bank, meminta Anda mengganti password segera. Begitu Anda memasukkan password di link tersebut, saat itulah Anda memberikan kunci Anda secara sukarela.
Apa Yang Bisa Anda Lakukan?
Setelah memahami teknik pembuatan password, apa yang harus Anda lakukan sekarang? Berikut adalah panduan aksi nyata untuk Anda:

Komentar